Tisya's friends

Senin, 10 November 2014

Love? Again??



Cinta itu…...........???

Membosankan!!!

Terlalu klise ketika lagi-lagi membicarakan cinta
Bukan aku sedang patah hati atau mencari sensasi
Tetapi membicarakan cinta tak akan pernah ada habisnya
Akui saja setiap cinta selalu membawa luka
Akui saja setiap cinta selalu terasa perih
Aku tahu kamu pasti berusaha menyangkal, seperti aku pada mulanya.


Hai… kamu, yang aku sebut sebagai penjejak organ kecil berwarna merah darah
Senyumanmu mengalahkan logika ku
Aku tak bisa mengontrol gemetar tangan dan detak jantung yang semakin kencang
Aku tidak mengerti cinta!
Jadi jangan pernah berusaha menyebut bahwa ini adalah cinta!
Hai… kamu, penjejak organ kecil berwarna merah darah
Bahkan punggungmu pun bisa merontokkan seluruh organ dalam ku

Rabu, 29 Oktober 2014

Ini bukan lagi tentang kepakan sayap
Bukan lagi tentang aroma mawar atau pun melati
Bukan pula tentang memuja indahnya krisan
Bukan lagi tentang angin pun deburan ombak pantai
Bukan lagi tentang rumput dan taman
Bukan lagi tentang embun dan gunung
Ini hanya tentang seberkas cahaya yang nyaris menentukan indahnya alam
Km pernah gk?
Ketika km sedang mencoba berjalan dengan hati2, mencoba menempuh jalan yg km pikir itu lurus. Tapi justru di sana banyak jurang lebar yg sering kali membuat km harus jatuh, lalu km tau bagaimana lelah n sakitnya harus memanjat dari dasar jurang.
Disisi lain ada orang yg kurang ajar, berjalan di jalan yg rusak, tapi bahkan tidak terlihat kakinya terbentur, atau pun jatuh tersungkur. Dia justru terlihat bahagia, lalalala dia menyanyi.
Km melihatnya. Melihat dari dasar jurang u. Sakit.
Kenapa??
Aq tak menyalahkan Tuhan atas itu. Aq pikir ini bukan masalah tentang Tuhan. Tapi aku ingin penjelasan realistis atas itu, bukan penjelasan teoritis tentang ketuhanan.

Malang, 29102014

Senin, 20 Oktober 2014

Aq merasa lucu ketika aq hanya duduk sendiri, memikirkan banyak hal yg terjadi dalam hidup ku. Sedangkan mereka terus berlalu lalang di depanku. Membicarakan hal hal yg kadang tak ku pahami.

Terkadang aku merasa lelah, dan masih sering berharap aku dapat sejenak berhenti bernafas, atau  sejenak menghentikan waktu andai aku bisa. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Terlalu banyak yang menginginkan hal itu terjadi.

Lelah bekejaran dengan waktu. Tidur tak akan menghentikan waktu. Mati pun tidak.

11:04 malang, 2882014

Rabu, 08 Oktober 2014



Mas..
Aku suka sama kamu. 
Suka. Suka yang aku tidak tahu akankah nantinya berarti lebih atau tidak?
Iya, sampean. Yang sering dibilang “Cengoh” sama temen-temen.
Sampean. Yang suka tidur kayak endog gosong dengan sleeping bag hitam kesayanganmu.
Aku suka kamu. Aku suka kalau liat TV bareng kamu. 
Kamu diam, aku diam. Tapi jantungku deg-degan.

Mas, aku lho suka sama kamu. 
Kamu yang tiba-tiba nari didepanku saat kamu denger music ludruk di JTV. 
Tarian yang jujur aku sebenarnya juga pengen lihat.
Tarian yang membuat aku tersenyum malu melihatmu. 
Tarian yang membuat aku memutuskan aku ingin memiliki lelaki yang seperti itu, yang memiliki jiwa dibidang seni.
Aku suka, waktu kamu tidur dan aku duduk membelakangimu. 
Hatiku rasane “mak serrr” ketika dibelakangku aku mendengar kamu mulai bergerak. 
Kadang aku takut kalau bunyi TV yang aku nyalakan mengganggu tidurmu yang singkat.
Tapi itu satu-satunya cara agar aku bisa menunggumu bangun. 
Aku ingin saat kamu bangun, kamu menemukan aku berada disebelahmu. 
Padahal mungkin itu hal yang gak penting.
Kadang aku hanya bisa mencuri-curi pandangan dari sampingmu. 
Melihat wajahmu dari samping, kamu jarang sekali menengok ke arahku sekalipun aku sedang mengajakmu berbicara, pandangan matamu masih tertancap di acara berita TV, sedangkan aku rasa pikiranmu kadang ada dimana-mana.
Gaga, km adalah nama lelaki yang paling sering aku sebut dalam banyak hal.
dalam cerita sedih ku,
dalam cerita bahagia ku,
dalam kekonyolan ku,
dalam marah ku,
dalam mimpi ku, dan
dalam hembusan nafas ku.

Gaga, apa kau masih mencintai aku? Dan bagaimana bila aku tidak lagi merasakan hal yang sama?
Aku tahu kau tak akan pernah membenci ku. Sama seperti aku yang tak akan membenci mu dalam setiap kebohongan mu.

Gaga, aku harus benar2 meletakkan pensil pena dan lembaran diary yang bejibun tentang mu di sini. Di dalam sebuah peti yang nantinya akan aku kunci rapat. Yang nantinya akan aku buka saat kau menampakkan diri dihadapan ku.

Gaga, aku masih selalu bertanya kenapa? Kenapa kau hanya ada dalam sebuah angan besar yang tak pernah terwujud sekalipun aku berusaha sekuat tenaga.

Gaga? Apa kamu hantu??

Rabu, 07 Mei 2014

What do u do with your age?

One day, aku pernah ngrasa takut menjadi tua. Sampai-sampai aku harus menutupi tanggal lahirku di facebook agar tidak ada yang tahu berapa tepatnya umurku. Agar mereka melupakan bahwa aku bertambah tua. 

Ah, tapi one day again. Aku liat acara Sarah Sechan, waktu itu bintang tamunya Alvin Adam. Alvin mencoba bertanya tentang umur Sarah, dan dia (sarah) agak malu-malu untuk menjawabnya. Wajar. Dia wanita. Dan kebanyakan wanita suka menutupi ketika ditanya tentang umur, hal yang cukup sensitive bagi wanita katanya. 

Alvin tersenyum saat Sarah mulai pura-pura berfikir tentang berapa umurnya sekarang. Kemudian Alvin berkata, untuk apa malu dengan usia kita, usia itu hanya angka. Yang terpenting adalah apa yang sudah kita lakukan selama usia itu?

Saat itu aku juga jadi ikut tersenyum, ah benar. Usia hanya sebuah angka, untuk apa ditutupi? Terkadang akan lebih bagus ketika banyak orang yang tahu, dan jadi lebih banyak orang yang mendoakan. Tapi jujur saja, aku lebih suka seperti ini, tidak banyak orang yang tahu. Aku pikir, kenapa mereka hanya mendoakan aku dalam 1tahun sekali jika mereka benar-benar peduli padaku? Seharusnya mereka mendoakanku setiap hari saat mereka memang memutuskan untuk peduli padaku. Dan kemudian menganggap setiap hari adalah hari yang special, dan bukan hanya hari tertentu. :)

Usia hanya sebuah angka. Tapi yang terpenting adalah apa yang sudah kita lakukan sampai detik ini, sebanyak angka itu melekat di diri kita? Tentang pencapaian apa yang sudah kita raih?

Kemudian aku mencoba memutar kembali ingatanku tentang hari-hari yang bagiku itu adalah sebuah pencapaian. Mungkin bukan sebuah prestasi besar, seperti mendapat sebuah penghargaan atau kekuasaan. Tapi sebuah pencapaian, kepuasan, sesuatu yang pada saatnya nanti itu akan menjadi sebuah sejarah bagiku.

Hari minggu kemarin, aku, pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba Marathon Open. Ini untuk pertama kalinya aku ikut acara lomba seperti ini, dan aku sendirian. Tenang saja, aku gak beneran ikut lomba marathon full yang musti lari sejauh 40km tanpa istirahat. Atau mengikuti half-marathon yang harus menyelesaikan jarak 20km tanpa henti juga. Aku hanya mengikuti lomba lari umum dan pencapaianku adalah 1jam 25menit untuk menyelesaikan jarak lari 10km. Tentu saja dengan rentang waktu yang cukup lama itu aku tidak menang, tapi aku tahu aku bukanlah peserta wanita terakhir yang menyelesaikan pertandingan itu. Dan aku tahu bahwa aku bisa jadi lebih baik dari yang lain. Dan bagiku itu adalah sebuah pencapaian.

Kaos dan Nomor dada untuk pertandingan Marathon Open dan 10K

selesai lari ternyata kakiku lecet (maklum udah lama gak lari) hehehe



Sepulang dari pertandingan itu seorang adik kostku bertanya tentang betapa aku adalah orang yang sangat aneh, karena selalu melakukan hal yang gak wajar bagi mereka. Ya, bagi mereka mengikuti lomba marathon 10km itu tidak wajar, mungkin mereka lebih suka duduk atau tiduran saja dikost, dan tidak perlu merasakan betapa sakitnya badan setelah lari sejauh 10km. mereka pikir, itu buang-buang waktu.

Lalu dia mulai mengungkit tentang aku, iya aku, aku yang melakukan perjalanan pulang dari Denpasar-Bali menuju kota Malang dengan mengendarai motor sendiri. Mereka selalu mengulangi pertanyaan yang sama berulang-ulang kali,”kamu beneran naik motor dari Bali ke Malang naik motor??” ”Sendirian??” ”Emang kamu gak takut??” ”yakin kamu sendirian? Alah palingan bohong.” ”Berapa lama emangnya perjalanannya?” ”Trus gimana kamu pas waktu nyebrang dipelabuhan?” “gak kesasar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti akan diulang olehsemua orang yang denger ceritaku tentang bali-malang ini. Kemudian lama-lama aku jadi tidak peduli orang percaya atau tidak? Tetapi itu memang adalah sebuah pencapaianku. Iya, aku melakukan perjalanan selama 12jam non-stop dari Bali ke Malang. Aku  hanya berhenti ketika mengisi di POM-bensin, ketika waktu solat, dan saat mengantuk. Dan waktu terlama yang aku gunakan untuk istirahat adalah saat solat, itupun mungkin hanya sekitar 10 menit. Aku tidak mengkonsumsi nasi selama perjalan, hanya berbekal 2 lembar roti dan 1 botol air minum. Baru setelah sampai di kosan aku membeli makan. Aku berangkat dari jam 06.30 WIT dan sampai dimalang sekitar jam 18.00 WIB karena yang aku ingat aku melakukan solat magrib sudah diwilayah Malang selatan.

Masih tentang sebuah perjalanan. Kali ini adalah perjalanan pertamaku di pulau Borneo. Benar-benar untuk pertama kalinya, dan kota pertama yang aku langkahi adalah Banjarmasin. Dari Banjar masin kota aku dan kakakku menuju daerah bernama Plehari tempat dimana mertua kakakku tinggal. Perjalan itu ditempuh sekitar 2jam lebih. Selam 2hari diPlehari aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri menuju kota, aku mampir sejenak ke pasar Martapura, walau tidak benar-benar masuk kedalam pasar. Dari Martapura aku melanjutkan perjalan sekitar 5jam menuju daerah tambang Batubara di Batu licin. Ya aku menikmati perjalannan panjangku sendiri tanpa sinyal hape. Malam selepas magrib aku sampai, disana aku menginap semalam ditempat saudara sepupuku. Esok harinya aku melakukan perjalanan  menuju  Plehari lagi. Sesampainya disana, aku ditanya macam-macam, meraka bertanya tentang Martapura, dan bagaimana aku bisa kesana? Dimana aku bermalam? Lucunya adalah, saat aku bilang aku bemalam di Batu licin mereka tidak begitu tahu daerah itu. Aku bilang batu licin itu setelahnya Tanah bumbu. Mereka baru mengerti bahwa itu sangat jauh bagi mereka, dan mereka bahkan belum pernah pergi kesana. Kemudian pertanyaan lain pun muncul,”apa kamu pernah kesana sebelumnya?” aku hanya tertawa sekali lagi aku katakana bahwa ini adalah perjalanan pertamaku di Borneo. Kemudian aku memutuskan bahwa ini juga sebuah pencapaianku.

di depan Masjid (lupa namanya) hehehe

ini diambil di depan Martapura :)

Kampung Bali di tengah hutan sawit Banjar

Tambang Batubara

Pantai Angsana

Explore Jogja with Eiger 
Cek point :)

Aku, wanita yang mulai hari ini menapaki umur ke23. Dengan berat badan masih 35kg, dan tinggi kurang dari 1,5meter. Merasa cukup bangga menjadi diriku yang seperti ini, menjadi diriku yang tidak pernah takut untuk menginjakan kakiku dimana saja. Seperti perjalan 19jam menuju kota Bandung lautan api. Explorating Eiger Yogjakarta. Dan perjalanan-perjalanan lain yang akan datang.


Hutan mangrove - Kab. Trenggalek


Aku mungkin bukan seorang pemenang, tetapi aku adalah penulis sejarah dalam hidupku sendiri.
Selamat Ulang Tahun Tisya Anifatul Ulum.
Semoga semakin banyak orang yang diam-diam mendoakanmu dalam sujudnya. Amin :)



Malang, 7 Mei 2014

Kamis, 17 April 2014

Lelaki Itu

Dia adalah lelaki yang sederhana. Lelaki yang dulu aku kenal selalu mengayuh sepeda pulang dan pergi ke sekolah. Lelaki yang mencintai wanitanya dengan mendalam sebagai wanita pertamanya. Lelaki yang mau menyerahkan segala yang diinginkan wanita itu sekuat dia mampu. Lelaki yang selalu mencoba bertahan agar wanitanya tidak melepaskannya.

Lelaki itu yang tengah mencoba tersenyum dihadapan kami. Lelaki yang tengah aku lihat mengendarai motornya dengan sangat kencang. Aku tahu dia sedang mencoba menahan rasa. Atau mungkin mencoba mematikan rasa, setidaknya untuk sementara waktu.

Lelaki itu yang tengah mencoba tersenyum (kembali) dihadapan kami. Mengenggam tangannya yang kram dan sedingin es. Mencoba tersenyum dengan bibir bergetar. Ada sesuatu yang tidak bisa dia tutupi dari kami.

Langkahnya yang tetap ia tegakkan, pandangannya yang lurus, senyumannya yang masih bergetar, hembusan nafasnya yang berat, tangannya yang masih sedingin es, kakinya yang bergoyang.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Menjadi dia yang melihat wanitanya sedang tersenyum renyah kepada setiap orang yang datang.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Menjadi dia yang melihat wanitanya kini sedang dipoles dengan taburan bedak, gincu, pemerah pipi, hitam-hitam dimata, dan segala aksesoris yang memberatkan kepalanya.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Ketika lelaki berjas itu menghampiri kami dan menyalami kami satu persatu. Aku tahu lelaki berjas itu sedang menyembunyikan sesuatu. Mungkin menyembunyikan rasa. Entah rasa yang seperti apa yang ia sembunyikan? Lelaki berjas itu lebih banyak bertanya pada lelaki yang banyak mencoba tersenyum itu.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Aku tidak bisa menggambarkan menjadi wanita itu. Aku tidak bisa menggambarkan menjadi lelaki berjas itu. Ketika dia menjabat tangan wanitanya begitu lama dan berkata lirih kepada wanita itu.


Dia adalah teman lelakiku. Adalah benar-benar teman dengan jenis kelamin laki-laki. Adalah seorang yang tangguh. Adalah seorang pejuang cinta. Adalah seseorang yang akan menemukan wanitanya lagi. Wanita terakhirnya. 

Sabtu, 08 Februari 2014

some trouble :)

Kadang aku benar-benar merasakan bahwa Tuhan sedang mengetesku, seperti hanya ingin tahu bagaimana aku akan bertindak? Bagaimana aku akan bereaksi dengannya?

Kadang saat Tuhan memberiku nikmat yang begitu terasa bagiku, aku mencoba mengingat-ingatnya dan juga ketika aku melakukan satu kesalahan yang aku sadari aku pun juga mencoba untuk mengingatnya sebaik mungkin. Karena aku ingin selalu siap ketika Tuhan mencoba sedikit mencubitku. Aku mencoba untuk selalu mewaspadai hal itu, aku terkadang jadi takut untuk terlalu bahagia, dan juga takut untuk terlalu menyesal.

Kadang saat Tuhan mencoba memberiku suatu kebahagiaan, aku selalu mencoba untuk bahagia secukupnya sekalipun sering kadang tidak bisa dibendung, tapi pada sisi yang lain aku mencoba untuk waspada, aku tahu Tuhan bisa saja membuatku berhenti tertawa dalam sekejap. Dan mengubahnya jadi tangis. Tuhan benar-benar bisa melakukan itu walau dalam keadaan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tapi justru ketika Tuhan sedang mengujiku, tentu saja aku masih saja sering merasa down, tapi ada rasa lega karena ya, aku tahu hanya Tuhan yang bisa melakukan hal-hal seperti itu. Aku tahu Tuhan sedang mencoba bermain denganku, kadang aku benar-benar tersenyum dalam diamku, dalam rasa kacauku, Ya, aku berbicara padanya. Aku dan Tuhanku.

“waktu hujan turun
Disudut gelap mataku Begitu derasnya

Kan ku coba bertahan”

boy's said about :)

Aku baru berjalan 2 bulan ini pindah kost di Poharin. Dan ya, banyak hal terjadi, I think. Kost baru yang cukup menyenangkan, kadang kost ini benar-benar full live music acustic, and met someone difference then usually. Dan menemukan banyak hal dari sudut pandang lain.

Ya,kost baruku adalah kost campuran antara laki-laki dan perempuan dalam satu atap rumah. Dan disanalah aku rasa menemukan sisi lain dari hal yang kadang selama ini aku cari. Pandangan dari sisi lelaki.
Satu kali kami –anak-anak kost- sedang nonton film di salah satu kamar. Kami menonton berlima, aku, wina, awak, khatam, dan johan. Hahahaha hanya dengan melihat film saja sudah dapat dilihat bahwa sudut pandang wanita dan pria itu berbeda.

Diawal film diputar, adegan pertama sudah menjadikan sebuah perdebatan. Seorang laki-laki kaya sedang membawa pulang teman wanitanya yang ternyata bersekongkol dengan perampok. Setelah lelaki kaya itu selesai dirampok, wanita itu pun langsung pergi meninggalkannya.
” makanya Jo, jangan suka bawa cewek, cewek itu emang suka ngrampok” kata Ganjar. Johan hanya ketawa saja. Dalam hati aku sudah mulai meradang.”gak semua wanita begitu” batinku.

Disalah satu adegan lain, seorang lelaki lain dengan gampang kencan dengan wanita lain padahl dia sudah punya tunangan.

“cowok juga gitu, udah punya tunangan masih nyosor aja sama cewek lain?” kataku agak sewot.

“cowok itu kalo ceweknya gak goda duluan ya gk bakal cowoknya gak bakal kayak gitu”,kata Ganjar.

“coba semua cewek didunia ini pake cadar dan jubah panjang pasti gak ada tuh kasus pencabulan, pemerkosaan. Ntar kalo cewek diperkosa yang disalahkan cowoknya padahl yang pake rok mini siapa?” katanya.

o.. o.. aku kalah telak. Tapi terbersit senyuman, owh, ternyata gitu cara pandang cowok?

__---__

Hari ini aku duduk didepan TV bareng mas cahyo dan mas jaja, melihat berita disalah satu stasiun TV. Dalam tayangan itu ada tayangan tentang sosialisasi kanker.

“wah, ya kalo kayak gitu malah ngajarin gak bener”. Kata mas Cahyo

“ya gak donk, kalo yang bahaya itu HIV AIDS, kalo yang itu kan nggaklah”, kata mas Jaja

“lah, kan tetep aja ntar bahaya buat ceweknya kalo yang dipencet-pencet itu”

“loh, justru itu bagus, kan bisa mendeteksi sejak dini”

“ya itu kan keahlianmu, hahaha , kan ntar kalo dipencet-pencet gitu bisa mempercepat pertumbuhan kankernya apalagi kalo ceweknya udah punya binih kangker, kan tetep bahaya”

“ ya enggaklah, justru kan dia bisa tahu lebih awal, coba kalo dia pencet-pencet sendiri itu kurang akurat, kan kalo dipencetin kan kitanya bisa ngerasin lebih cepet. Kan malah jadi tindakan positf”

Akhirnya mas cahyo cuma bisa ketawa aja,”tindakan positifmu kayak gitu ya? Bahaya. Hahahahahaha”

Aku yang jadi pendengar gak ngerti harus bagaimana dengan perdebatan mereka. Baiklah, biarkan jadi perdebatan antar lelaki. Tetapi dari ku -seorang wanita- aku setuju pada mas cahyo.

__---__

Aku kemudian pergi meninggalkan ruang TV setelah perdebatan lelaki itu usai. Aku masuk kamar Wina, disana ada Wina dan Awak –pacarnya- sedang sibuk dengan kegiatan meraka masing-masing, wina sibuk membolak-balik buku tentang teater dan Awak sibuk dengan leptopnya.
Kemudian Ganjar masuk setelahku, berpakaian rapi. Aku tidak bertnya kemana dia pergi? Aku pikir biasanya dia akan pergi kuliah tiap menjelang magrib.
“aku udah mirip Brad pitt belum?” sambil menuju kecermin.
“To be your self” gumamku sambil siap-siap mau pulang ke tempat kakakku. Awak keluar kamar. Tinggal aku, wina dan ganjar.
“Win, aku mau ke songgoriti” katanya pada wina. Aku mendengarkan.
“nyapo?” kata wina.
“nginep.” Katanya. Wina senyam-senyum aja. Tapi aku belum mengerti.
“Gampang wes, ntar aku cari cewek disana. Ntar Awak biar aku cariin juga”.
“Tak beleh arek e lak aneh-aneh.” Kata wina
“Dasar arek lanang.” Kataku agak sebal
“Mumpung jek enom Sya.” Kata ganjar.
“justru karena masih muda, jangan disia-siain dengan kenikmatan sesaat to?”
“justru dari kenikmatan yang sedikit-sedikit ntar kan lama-lama jadi banyak, hidup itu Cuma sekali harus dinikmati”

Wina yang kayaknya mulai sumpek mendengar aku dan ganjar berdebat, menyuruhku untuk cepat-cepat pergi saja dari pada berantem gak jelas sama orang stress. Hahhaha
Sampai dijalan aku jadi berfikir, kenapa lelaki kebanyakan seperti itu?
Kadang sesorang yang aku anggap baik dan aku pikir tidak juga melakukan hal-hal seperti itu selama pacaran, ah ternyata juga sama saja. Terkadang jadi ragu, apa emang benar gak ada cowok yang pikirannya masih waras tanpa pikiran yang to much jorok?
Haaaahh.. dasar cowok!

tentang adik yang belum resmi menjadi adik (ipar)

Ini tentang seorang adik yang belum resmi menjadi adik (ipar), tetapi ia sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Dia bilang namanya “Van” dari kata “Evandra” kadang dia suka menyingkat namanya menjadi “Vn”. Tetapi aku lebih suka memanggilnya “Nda” terasa lebih familiar, atau aku plesetkan jadi “Indah” seperti juga Gaga yang memanggilnya begitu.

Akhir-akhir ini dia sering curhat padaku. Tentang kehidupan asmaranya. Pacarku Gaga suka sekali mengosipkan dia. Tentang kerja kerasnya, tentang kehidupan sehari-harinya, juga tentang asmaranya. Aku rasa sebenarnya antara (pacarku) Gaga dan (adiknya) Indah saling mengagumi satu sama lain. Mereka sering menunjukkan rasa bangga mereka satu sama lain, yang adik begitu hormat pada sang kakak dan sang kakak begitu sayang pada sang adik.

Baiklah ini tentang cerita asmaranya. Asmara dari sang adik. Sesaat aku membaca sebuah status dari sahabatku Yuni yang selalu menulis dengan konotasi yang cantik. Di statusnya dia berkata,”semua orang memuja sang dewi malam itu”.

Aku jadi ingat ceritanya beberapa hari yang lalu, dia bilang dia galau, terlalu banyak nama Dewi disekitarnya. Ini membuatnya semakin susah untuk melupakan nama mantannya satu itu. Dan aku hanya mengatakan, iya, mau bagaimana lagi? Nama mantanmu itu kan pasaran. Hahahaha
Sejenak aku jadi teringat bahwa dulu aku juga pernah ingin melupakan suatu nama. Bukan nama mantan pacarku, tetapi nama temanku yang menyebalkan. Dan entah kenapa setiap kali ingin melupakan dan tidak suka mendengar nama itu disebut, nama itu justru sering muncul. Owh, mungkin seharusnya adalah jangan mencoba melupakan seseorang yang memiliki Nama Pasaran. Yang tidak akan disebut saat bernyanyi, yang tidak akan disebut saat ada pelajaran membaca puisi, cerita, ataupun pada konteks kalimat yang lain.

Mungkin memang bukan mereka yang salah karena memiliki nama yang cukup pasaran. Tetapi jelas aku yang salah, iya, aku dan seorang adik yang belum resmi menjadi adik, tetapi sudah aku anggap seperti adikku sendiri lah yang salah karena ingin melupakan sesorang yang namanya pasti pernah dipikirkan oleh banyak orang. Dan aku mengerti ini menyebalkan!

Rabu, 29 Januari 2014

New Beach in Malang

yup yup...
seorang teman dari group Komunitas Backpacker Malang Raya ada yang baru saja share tentang sebuah pantai tak berpenghuni dan belum diketahui namanya. 

berikut adalah komentar beliau tentang jalur menuju tempat tersebut :

>> rutenya persis menuju pantai kondang iwak,entar dari pantai kondang iwak,ikuti aja jln setapak yg mengarah ke barat dari pantai kondang iwak,entar jlnnya membelah hutan,jaraknya skitar 1km dri kondang iwak
>>  pakek motor jg bisa kok,jdi ksananya dpet mengunjungi 2 pantai,pantai kondang iwak dan pantai ini,sprti kata pepata:"sekali jalan dapat 2 pantai"..ok..sama2,met brpetualang.

dan ini adalah penampakan pantai tersebut yang diambil oleh empunya :)


Yes, I hope u read it

“Jangan diladenin, ntar kepikiran loh”

Aku rasa Tatha benar. Seharusnya aku tidak meladeni pertengkaranku dengan Kii. Beberapa saat setelah bertengkar sedikit banyak hal itu memang mengganggu pikiranku. Hahaha

Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan padanya, sayang dia selalu lebih mendahulukan esmosinya daripada memikirkan baik-baik perkataan orang lain. Dia merasa dirinyalah satu-satunya yang benar. Dan mungkin aku juga begitu. *wanita*

Mungkin aku yang pertama kali menyulut api, tetapi mungkin juga bukan? Aku tidak tahu pasti siapa yang bersalah? Atau bahkan mungkin semuanya salah. Ya aku rasa memang semuanya salah, karena sama-sama tersulut emosi.

Jujur saja ketika aku menulis.
”@k**r*m*dh*n* u calling2n with ma boy yes? Lma2 jealous jga. Hahaha” 
itu sama sekali bukan sebuah judging yang aku buat untukmu. Dan aku hanya menganggap hal itu sebagai sebuah gurauan. Sama sekali gak ada intonasiku untuk mendampratmu, right? Tapi sayangnya pikiranmu berimajinasi terlalu jauh. 

U told me, what’s a pity I’am?

Aku gak ngerti dimana letak “pity”nya?. Kamu bilang sebuah text gak punya nada? Ada. Lalu bagaimana kamu bisa memahami tumpukan novelmu jika text-text itu tak bernada? Tentu saja setiap kata punya nada. Setiap kalimat punya intonasi. Aku pikir kamu lebih pintar dengan setumpuk novel mahal yang kamu beli ratusan ribu itu, dan ternyata aku salah.

You told me that I’am “menjilat ludah sendiri”?

Sejauh ini tidak pernah menyesali jalan yang aku ambil. Aku tidak menyesal bersama Gaga sampai detik ini. Bagaimanapun dia saat ini. Karena aku yakin setiap jalan punya pintunya. Dan aku yakin Tuhan-ku akan menunjukkan pintu yang tepat untukku. Jadi aku tidak pernah menyesal dan mencoba menjilat ludahku sendiri.

Then you said that I’am a  “pelacur”?

Kamu boleh bertanya kepada semua orang terdekatku. Apakah aku pernah keranjingan buat godain cowok-cowok? Apa aku punya seorang laki-laki yang selalu aku gandeng kemana-mana? Apa aku pernah gonta-ganti cowok? Bahkan kamu tidak tahu apa-apa? Hanya karena aku pacaran dengan mantanmu, dengan mudah kamu mengatakan hal itu.

Seharusnya aku bertanya padamu.

Kenapa dulu waktu aku mencoba membantu hubungan kalian mati-matian, gak ada yang respek sama sekali? Bahkan kamu sendiri yang bilang kalau kamu lelah. Kamu bilang mungkin kalian tidak lagi bisa bersama. Ya, waktu itu aku benar-benar tulus buat bantu kalian. Tidak ada rasa cinta sama sekali dariku untuk kekasihmu. Tapi kamu selalu menuduhku.

Kenapa gak dari dulu kamu peduli padanya?

Memangnya aku tidak pernah membujuknya agar dia bisa kembali kepadamu? Sering. Bahkan setiap kali dia menyebut namamu. Tapi dia selalu bilang,” ki udah benci gw, dia udah punya cowok yang  bisa bahagiain dia”.

Sekarang, setelah aku merangkulnya. Kamu menyebutku tidak tahu diri?
Memangnya selama kalian bersama, pernah kah aku meminta kekasihmu untuk menjadi milikku? Tidak sama sekali.

Memangnya aku tidak tahu? Waktu kamu menghubungi aku dan meminta nomornya. Kamu justru meminta dia kembali bersamamu. Kamu pikir aku tidak tahu?? Aku tahu. Dan aku juga tahu kamu sering melakukannya, bahkan setiap kali kamu putus dengan pacarmu yang lain. Apa aku protes sama kamu? Apa aku melabrakmu? Apa aku sewot dan benci sama kamu? Tidak.

Tapi asal kamu tahu, Mantanmu itu bukan lagi mainanmu.