Tisya's friends

Rabu, 17 Desember 2014

Kamu mulai menyapaku
Kamu mulai malu-malu padaku
Kamu mulai membelaku
aku tahu
Mungkin ini hanya akan menjadi rahasia
Antara aku dan kamu


Kamis, 27 November 2014

Ragu

Aku takut bila semua pertahanan ku mulai runtuh
Aku tak ingin jatuh
Aku tahu betapa sakit rasanya jatuh
Aku takut bila kau hanya sekedar melemahkan ku
Lalu meninggalkan ku
Aku tak kan mampu
Aku mungkin hanya bisa terpaku
Melihatmu berlalu

N27112014 08:21am

Merindu Malam

Aku merindu
Ada rindu yang harus aku sampaikan pada malam
Aku ingin menyampaikan rindu ini pada seluruh penghuni malam
Tak hanya purnama
Tak hanya bintang
Aku pun ingin kamu menjadi bagian dari malam

N24112014 21:54

Rabu, 26 November 2014

Semu

Aku yang membuatnya
Sebuah bingkai dengan ukiran pada kayu jati
Aku melihat mu di balik bingkai itu
Saat aku tersenyum, kau tertawa
Saat aku menangis, kau tampak sedih
Aku melihat mu di balik bingkai itu
Aku mencoba meraih tangan mu
Kau mencoba memeluk ku
Tapi aku tak pernah merasakan hangat tubuh mu
Aku tak pernah menemukan sela sela jarimu...
Aku melihat mu di balik bingkai itu
Aku yang merasakan dingin saat ku coba menerobos bingkai itu
Aku yang tahu ada dinding kaca menghalangi aku dan kamu
Aku melihat mu dibalik bingkai itu
Aku ingin kamu
Aku yang menghancurkan dinding itu
Lalu aku tak lagi melihatmu
Di balik bingkai itu...
Ruang tivi itu mungkin memang menjadi sebuah tempat favorit untuk ku dan kamu
Menghabiskan waktu hanya dengan duduk berdua lalu saling diam
Hanya sama2 melihat siaran berita metrotv atau tertawa melihat tayangan yang di sajikan netTV
Atau fokus pada laptop kita masing2
Tapi kali ini musik keroncong yang kamu putar menggantikan posisi tivi yang biasa menemani diam kita
Musik keroncong yang kamu bilang membuatmu rindu pada rumah
Musik keroncong yang pada akhirnya mengiringi kita dalam sebuah percakapan tentang aku dan kamu

N131114

Senin, 10 November 2014

November Rain #1

Dingin dan segar
Kala tetes tetes air itu mengalir di garis bibir ku
Mengembangkan senyum ku
Mengingatkan ku pada satu kenangan tentang hujan
Kenangan yang nyatanya hampir terlupakan

Tembok



Aku seorang wanita yang telah terjebak dalam tubuh mungil
Mencoba memilih jalan yang dianggap berbeda dengan yang biasa. 
Tetapi terlalu biasa bagi yang luar biasa.
Aku memilih jalan yang aku pikir adalah jalan yang lurus, 
tapi Tuhan memberiku jalan yang penuh dengan tembok tinggi dan membuatku kesulitan untuk aku lewati denga tubuh mungil dan kadang terlihat ringkih. 

Bukan soal fisik yang sakit untuk berusaha dalam melewati setiap tembok tinggi besar yang Tuhan beri, 
tetapi ini tentang bagian kecil dalam tubuhku yang mereka bilang hati, 
namun yang aku rasakan bukan sakit dibagian perut kanan atas, 
melainkan  ada rasa yang tersayat di bagian dalam dada. 
Sesuatu yang tidak bisa dikatakan dalam sebuah kalimat singkat, 
tapi juga tak bisa di gambarkan dalam bentuk yang sederhana.
Ini mungkin juga tentang sesorang yang seharusnya ada untuk menarikku dari atas, 
atau sesorang yang menopangku dari bawah. 
Agar aku bisa melewati setiap tembok tinggi besar itu dengan tanpa ada rasa tersayat di bagian dalam dada. Ini bukan tentang Tuhan lagi, tetapi sesorang yang Tuhan kirimkan padaku untuk melalui banyak tembok tinggi besar ini.
28 september 2014

Love? Again??



Cinta itu…...........???

Membosankan!!!

Terlalu klise ketika lagi-lagi membicarakan cinta
Bukan aku sedang patah hati atau mencari sensasi
Tetapi membicarakan cinta tak akan pernah ada habisnya
Akui saja setiap cinta selalu membawa luka
Akui saja setiap cinta selalu terasa perih
Aku tahu kamu pasti berusaha menyangkal, seperti aku pada mulanya.


Hai… kamu, yang aku sebut sebagai penjejak organ kecil berwarna merah darah
Senyumanmu mengalahkan logika ku
Aku tak bisa mengontrol gemetar tangan dan detak jantung yang semakin kencang
Aku tidak mengerti cinta!
Jadi jangan pernah berusaha menyebut bahwa ini adalah cinta!
Hai… kamu, penjejak organ kecil berwarna merah darah
Bahkan punggungmu pun bisa merontokkan seluruh organ dalam ku

Rabu, 29 Oktober 2014

Ini bukan lagi tentang kepakan sayap
Bukan lagi tentang aroma mawar atau pun melati
Bukan pula tentang memuja indahnya krisan
Bukan lagi tentang angin pun deburan ombak pantai
Bukan lagi tentang rumput dan taman
Bukan lagi tentang embun dan gunung
Ini hanya tentang seberkas cahaya yang nyaris menentukan indahnya alam
Km pernah gk?
Ketika km sedang mencoba berjalan dengan hati2, mencoba menempuh jalan yg km pikir itu lurus. Tapi justru di sana banyak jurang lebar yg sering kali membuat km harus jatuh, lalu km tau bagaimana lelah n sakitnya harus memanjat dari dasar jurang.
Disisi lain ada orang yg kurang ajar, berjalan di jalan yg rusak, tapi bahkan tidak terlihat kakinya terbentur, atau pun jatuh tersungkur. Dia justru terlihat bahagia, lalalala dia menyanyi.
Km melihatnya. Melihat dari dasar jurang u. Sakit.
Kenapa??
Aq tak menyalahkan Tuhan atas itu. Aq pikir ini bukan masalah tentang Tuhan. Tapi aku ingin penjelasan realistis atas itu, bukan penjelasan teoritis tentang ketuhanan.

Malang, 29102014

Senin, 20 Oktober 2014

Aq merasa lucu ketika aq hanya duduk sendiri, memikirkan banyak hal yg terjadi dalam hidup ku. Sedangkan mereka terus berlalu lalang di depanku. Membicarakan hal hal yg kadang tak ku pahami.

Terkadang aku merasa lelah, dan masih sering berharap aku dapat sejenak berhenti bernafas, atau  sejenak menghentikan waktu andai aku bisa. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Terlalu banyak yang menginginkan hal itu terjadi.

Lelah bekejaran dengan waktu. Tidur tak akan menghentikan waktu. Mati pun tidak.

11:04 malang, 2882014

Rabu, 08 Oktober 2014



Mas..
Aku suka sama kamu. 
Suka. Suka yang aku tidak tahu akankah nantinya berarti lebih atau tidak?
Iya, sampean. Yang sering dibilang “Cengoh” sama temen-temen.
Sampean. Yang suka tidur kayak endog gosong dengan sleeping bag hitam kesayanganmu.
Aku suka kamu. Aku suka kalau liat TV bareng kamu. 
Kamu diam, aku diam. Tapi jantungku deg-degan.

Mas, aku lho suka sama kamu. 
Kamu yang tiba-tiba nari didepanku saat kamu denger music ludruk di JTV. 
Tarian yang jujur aku sebenarnya juga pengen lihat.
Tarian yang membuat aku tersenyum malu melihatmu. 
Tarian yang membuat aku memutuskan aku ingin memiliki lelaki yang seperti itu, yang memiliki jiwa dibidang seni.
Aku suka, waktu kamu tidur dan aku duduk membelakangimu. 
Hatiku rasane “mak serrr” ketika dibelakangku aku mendengar kamu mulai bergerak. 
Kadang aku takut kalau bunyi TV yang aku nyalakan mengganggu tidurmu yang singkat.
Tapi itu satu-satunya cara agar aku bisa menunggumu bangun. 
Aku ingin saat kamu bangun, kamu menemukan aku berada disebelahmu. 
Padahal mungkin itu hal yang gak penting.
Kadang aku hanya bisa mencuri-curi pandangan dari sampingmu. 
Melihat wajahmu dari samping, kamu jarang sekali menengok ke arahku sekalipun aku sedang mengajakmu berbicara, pandangan matamu masih tertancap di acara berita TV, sedangkan aku rasa pikiranmu kadang ada dimana-mana.
Gaga, km adalah nama lelaki yang paling sering aku sebut dalam banyak hal.
dalam cerita sedih ku,
dalam cerita bahagia ku,
dalam kekonyolan ku,
dalam marah ku,
dalam mimpi ku, dan
dalam hembusan nafas ku.

Gaga, apa kau masih mencintai aku? Dan bagaimana bila aku tidak lagi merasakan hal yang sama?
Aku tahu kau tak akan pernah membenci ku. Sama seperti aku yang tak akan membenci mu dalam setiap kebohongan mu.

Gaga, aku harus benar2 meletakkan pensil pena dan lembaran diary yang bejibun tentang mu di sini. Di dalam sebuah peti yang nantinya akan aku kunci rapat. Yang nantinya akan aku buka saat kau menampakkan diri dihadapan ku.

Gaga, aku masih selalu bertanya kenapa? Kenapa kau hanya ada dalam sebuah angan besar yang tak pernah terwujud sekalipun aku berusaha sekuat tenaga.

Gaga? Apa kamu hantu??

Rabu, 07 Mei 2014

What do u do with your age?

One day, aku pernah ngrasa takut menjadi tua. Sampai-sampai aku harus menutupi tanggal lahirku di facebook agar tidak ada yang tahu berapa tepatnya umurku. Agar mereka melupakan bahwa aku bertambah tua. 

Ah, tapi one day again. Aku liat acara Sarah Sechan, waktu itu bintang tamunya Alvin Adam. Alvin mencoba bertanya tentang umur Sarah, dan dia (sarah) agak malu-malu untuk menjawabnya. Wajar. Dia wanita. Dan kebanyakan wanita suka menutupi ketika ditanya tentang umur, hal yang cukup sensitive bagi wanita katanya. 

Alvin tersenyum saat Sarah mulai pura-pura berfikir tentang berapa umurnya sekarang. Kemudian Alvin berkata, untuk apa malu dengan usia kita, usia itu hanya angka. Yang terpenting adalah apa yang sudah kita lakukan selama usia itu?

Saat itu aku juga jadi ikut tersenyum, ah benar. Usia hanya sebuah angka, untuk apa ditutupi? Terkadang akan lebih bagus ketika banyak orang yang tahu, dan jadi lebih banyak orang yang mendoakan. Tapi jujur saja, aku lebih suka seperti ini, tidak banyak orang yang tahu. Aku pikir, kenapa mereka hanya mendoakan aku dalam 1tahun sekali jika mereka benar-benar peduli padaku? Seharusnya mereka mendoakanku setiap hari saat mereka memang memutuskan untuk peduli padaku. Dan kemudian menganggap setiap hari adalah hari yang special, dan bukan hanya hari tertentu. :)

Usia hanya sebuah angka. Tapi yang terpenting adalah apa yang sudah kita lakukan sampai detik ini, sebanyak angka itu melekat di diri kita? Tentang pencapaian apa yang sudah kita raih?

Kemudian aku mencoba memutar kembali ingatanku tentang hari-hari yang bagiku itu adalah sebuah pencapaian. Mungkin bukan sebuah prestasi besar, seperti mendapat sebuah penghargaan atau kekuasaan. Tapi sebuah pencapaian, kepuasan, sesuatu yang pada saatnya nanti itu akan menjadi sebuah sejarah bagiku.

Hari minggu kemarin, aku, pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba Marathon Open. Ini untuk pertama kalinya aku ikut acara lomba seperti ini, dan aku sendirian. Tenang saja, aku gak beneran ikut lomba marathon full yang musti lari sejauh 40km tanpa istirahat. Atau mengikuti half-marathon yang harus menyelesaikan jarak 20km tanpa henti juga. Aku hanya mengikuti lomba lari umum dan pencapaianku adalah 1jam 25menit untuk menyelesaikan jarak lari 10km. Tentu saja dengan rentang waktu yang cukup lama itu aku tidak menang, tapi aku tahu aku bukanlah peserta wanita terakhir yang menyelesaikan pertandingan itu. Dan aku tahu bahwa aku bisa jadi lebih baik dari yang lain. Dan bagiku itu adalah sebuah pencapaian.

Kaos dan Nomor dada untuk pertandingan Marathon Open dan 10K

selesai lari ternyata kakiku lecet (maklum udah lama gak lari) hehehe



Sepulang dari pertandingan itu seorang adik kostku bertanya tentang betapa aku adalah orang yang sangat aneh, karena selalu melakukan hal yang gak wajar bagi mereka. Ya, bagi mereka mengikuti lomba marathon 10km itu tidak wajar, mungkin mereka lebih suka duduk atau tiduran saja dikost, dan tidak perlu merasakan betapa sakitnya badan setelah lari sejauh 10km. mereka pikir, itu buang-buang waktu.

Lalu dia mulai mengungkit tentang aku, iya aku, aku yang melakukan perjalanan pulang dari Denpasar-Bali menuju kota Malang dengan mengendarai motor sendiri. Mereka selalu mengulangi pertanyaan yang sama berulang-ulang kali,”kamu beneran naik motor dari Bali ke Malang naik motor??” ”Sendirian??” ”Emang kamu gak takut??” ”yakin kamu sendirian? Alah palingan bohong.” ”Berapa lama emangnya perjalanannya?” ”Trus gimana kamu pas waktu nyebrang dipelabuhan?” “gak kesasar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti akan diulang olehsemua orang yang denger ceritaku tentang bali-malang ini. Kemudian lama-lama aku jadi tidak peduli orang percaya atau tidak? Tetapi itu memang adalah sebuah pencapaianku. Iya, aku melakukan perjalanan selama 12jam non-stop dari Bali ke Malang. Aku  hanya berhenti ketika mengisi di POM-bensin, ketika waktu solat, dan saat mengantuk. Dan waktu terlama yang aku gunakan untuk istirahat adalah saat solat, itupun mungkin hanya sekitar 10 menit. Aku tidak mengkonsumsi nasi selama perjalan, hanya berbekal 2 lembar roti dan 1 botol air minum. Baru setelah sampai di kosan aku membeli makan. Aku berangkat dari jam 06.30 WIT dan sampai dimalang sekitar jam 18.00 WIB karena yang aku ingat aku melakukan solat magrib sudah diwilayah Malang selatan.

Masih tentang sebuah perjalanan. Kali ini adalah perjalanan pertamaku di pulau Borneo. Benar-benar untuk pertama kalinya, dan kota pertama yang aku langkahi adalah Banjarmasin. Dari Banjar masin kota aku dan kakakku menuju daerah bernama Plehari tempat dimana mertua kakakku tinggal. Perjalan itu ditempuh sekitar 2jam lebih. Selam 2hari diPlehari aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri menuju kota, aku mampir sejenak ke pasar Martapura, walau tidak benar-benar masuk kedalam pasar. Dari Martapura aku melanjutkan perjalan sekitar 5jam menuju daerah tambang Batubara di Batu licin. Ya aku menikmati perjalannan panjangku sendiri tanpa sinyal hape. Malam selepas magrib aku sampai, disana aku menginap semalam ditempat saudara sepupuku. Esok harinya aku melakukan perjalanan  menuju  Plehari lagi. Sesampainya disana, aku ditanya macam-macam, meraka bertanya tentang Martapura, dan bagaimana aku bisa kesana? Dimana aku bermalam? Lucunya adalah, saat aku bilang aku bemalam di Batu licin mereka tidak begitu tahu daerah itu. Aku bilang batu licin itu setelahnya Tanah bumbu. Mereka baru mengerti bahwa itu sangat jauh bagi mereka, dan mereka bahkan belum pernah pergi kesana. Kemudian pertanyaan lain pun muncul,”apa kamu pernah kesana sebelumnya?” aku hanya tertawa sekali lagi aku katakana bahwa ini adalah perjalanan pertamaku di Borneo. Kemudian aku memutuskan bahwa ini juga sebuah pencapaianku.

di depan Masjid (lupa namanya) hehehe

ini diambil di depan Martapura :)

Kampung Bali di tengah hutan sawit Banjar

Tambang Batubara

Pantai Angsana

Explore Jogja with Eiger 
Cek point :)

Aku, wanita yang mulai hari ini menapaki umur ke23. Dengan berat badan masih 35kg, dan tinggi kurang dari 1,5meter. Merasa cukup bangga menjadi diriku yang seperti ini, menjadi diriku yang tidak pernah takut untuk menginjakan kakiku dimana saja. Seperti perjalan 19jam menuju kota Bandung lautan api. Explorating Eiger Yogjakarta. Dan perjalanan-perjalanan lain yang akan datang.


Hutan mangrove - Kab. Trenggalek


Aku mungkin bukan seorang pemenang, tetapi aku adalah penulis sejarah dalam hidupku sendiri.
Selamat Ulang Tahun Tisya Anifatul Ulum.
Semoga semakin banyak orang yang diam-diam mendoakanmu dalam sujudnya. Amin :)



Malang, 7 Mei 2014

Kamis, 17 April 2014

Lelaki Itu

Dia adalah lelaki yang sederhana. Lelaki yang dulu aku kenal selalu mengayuh sepeda pulang dan pergi ke sekolah. Lelaki yang mencintai wanitanya dengan mendalam sebagai wanita pertamanya. Lelaki yang mau menyerahkan segala yang diinginkan wanita itu sekuat dia mampu. Lelaki yang selalu mencoba bertahan agar wanitanya tidak melepaskannya.

Lelaki itu yang tengah mencoba tersenyum dihadapan kami. Lelaki yang tengah aku lihat mengendarai motornya dengan sangat kencang. Aku tahu dia sedang mencoba menahan rasa. Atau mungkin mencoba mematikan rasa, setidaknya untuk sementara waktu.

Lelaki itu yang tengah mencoba tersenyum (kembali) dihadapan kami. Mengenggam tangannya yang kram dan sedingin es. Mencoba tersenyum dengan bibir bergetar. Ada sesuatu yang tidak bisa dia tutupi dari kami.

Langkahnya yang tetap ia tegakkan, pandangannya yang lurus, senyumannya yang masih bergetar, hembusan nafasnya yang berat, tangannya yang masih sedingin es, kakinya yang bergoyang.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Menjadi dia yang melihat wanitanya sedang tersenyum renyah kepada setiap orang yang datang.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Menjadi dia yang melihat wanitanya kini sedang dipoles dengan taburan bedak, gincu, pemerah pipi, hitam-hitam dimata, dan segala aksesoris yang memberatkan kepalanya.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Ketika lelaki berjas itu menghampiri kami dan menyalami kami satu persatu. Aku tahu lelaki berjas itu sedang menyembunyikan sesuatu. Mungkin menyembunyikan rasa. Entah rasa yang seperti apa yang ia sembunyikan? Lelaki berjas itu lebih banyak bertanya pada lelaki yang banyak mencoba tersenyum itu.

Aku tidak bisa menggambarkan rasanya menjadi dia. Aku tidak bisa menggambarkan menjadi wanita itu. Aku tidak bisa menggambarkan menjadi lelaki berjas itu. Ketika dia menjabat tangan wanitanya begitu lama dan berkata lirih kepada wanita itu.


Dia adalah teman lelakiku. Adalah benar-benar teman dengan jenis kelamin laki-laki. Adalah seorang yang tangguh. Adalah seorang pejuang cinta. Adalah seseorang yang akan menemukan wanitanya lagi. Wanita terakhirnya.