Tisya's friends

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Praktikum Bedah

Bismillah.. Assalamualaikum.. Apakabar teman-teman.. sesuai janji. Postinganku kali ini aku bakal ceritain pengalamanku Praktikum Evaluasi dan Gizi Pangan, kami anak Teknologi Hasil Pertanian (THP) biasa menyingkatnya jadi Praktikum Eval atau Gival.
Yups, disini sebenarnya ada beberapa praktikum yang dilakukan. Ada uji In Vivo dan Uji In Vitro. Apa itu uji in vivo dan uji in vitro? Yah, silahkan teman-teman googling sendiri aja yah.hehehe Di praktikum ini yang paling asik adalah waktu praktikum Uji In Vivo. Jadi ceritanya kami, para praktikan (sebutan bagi peserta praktek) dibagi menjadi beberapa kelompok. Dan setiap kelompok di wajibkan memelihara tikus 4ekor. Setiap hari praktikan harus membersihkan kandang, mengganti sekam, memberi air, mengganti pakan, juga menyonde tikus, dan yah seperti itulah kira-kira jika kalian punya peliharaan dirumah. Tapi bedanya ini bukan dilakuakan dirumah, tetapi dilaboratorium.hehehe
Ini adalah hari pertama pembagian tikus untuk setiap kelompok. :D

baru pertama pakai sarung tangan dan masker didalam lab :D

Latihan sonde

Dan hari itu pula kami belajar buat menyonde tikus. Tapi yang ini tikus percobaannya pake tikus asisten, jadi kalo terjadi sesuatu, tikus asisten yang jadi korban.. hehehehe

Perjalanan panjang pemeliharaan tikus ini dilakukan selama 1bulan lebih. Dan tibalah diujung percobaan, dimana tikus harus diambil sampel darahnya lewat jantung. So.. Kita haruslah melakukan pembedahan berantai.hahahaha Kejam banget ya? Tapi begitulah saran penyajiannya. Selain buat belajar ambil darah dari jantung, diharapkan praktikan belajar juga buat ambil serta mengamati organ dalam dari tikus.
Yah, seperti inilah kira-kira pekerjaan kami. Sadis ya?? Bahkan lebih sadis daripada Afgan. :p
Foto ini aku ambil dari temenku Dhita pas praktikum

Kalian pernah membayangkan bagaimana membedah tikus yang tadinya masih hidup, lalu secara sadar, kita memotong-motong bagian dari tubuhnya. Pernah gak kebayang kalau yang dipotong itu organ seseorang? Tadinya aku bangga bisa mengoprasi tikus. Aku jadi berasa seperti dokter bedah, saat darah yang keluar tidak begitu banyak, maka akan tersenyum bangga bahwa operasi berhasil. Tapi saat darah mulai mengalir kemana-mana, maka aku akan sangat terpukul, yang menandakan operasi gagal.
Itu hanya sekedar tikus. Dan diapun sudah diberi label tikus percobaan. Jadi gak apa-apa kali yah kalau tubuhnya digunting-gunting, di tusuk pake jarum gitu... tapi bagaimana kalau itu tubuh seseorang. Apa kira-kira juga akan sama? Pertama kali membius tikus, melihatnya lemas tak berdaya aq merasa iba, tanganku gemetaran dingin, dan jantungku berdetak keras. Kedua saat aku mencoba menggunting kulit tubuhnya aku meminta maaf, keringatku bercucuran. Ketiga saat aku menusuk kulitnya, aku lalu mengatakan pada diriku, aku harus bisa menyelesaikan praktikumku dengan cepat. Ah, aku merasa pernah jadi pembunuh yang sadis seperti mutilator yang ada diberita. Hanya bedanya tidak ada yang menuntut tindakan ini (mungkin pecinta binatang) karena orang tua tikus walau mereka peduli, kami pun tidak akan dapat memahami decitan mereka.
Ah, kayaknya aku sudah mulai ngelantur. Cukup sekian aja yah buat hari ini.. semoga kalian tidak memiliki jiwa sesadis diriku..

Have a nice day bloggers... :D

Senin, 17 Oktober 2011

KAMPUSKU DULU TAK BEGINI, TAPI KINI TAK CUKUP LAGI

Aku sedang berjalan buru-buru menuju kampus buat kuliah. Lalu aku langsung berbelok arah menuju mading karena sekilas aku melihat selebaran unik disana.

“KAMPUSKU DULU TAK BEGINI,
TAPI KINI TAK CUKUP LAGI”
Seharusnya mereka(pejabat rektor) mengerti, bahwa sudah tiada lagi tempat buat kami belajar!!
Ditulis besar-besar dengan gambar yang mendukung. Sebaris kalimat. Tapi berarti banyak buat para penghuni kampus tercinta “UNIVERSITAS BRAWIJAYA”.
Aku hanya tersenyum tipis. Sama sekali tidak mengelak. Bahkan aku jadi ingat sama presentasi seorang temanku beberapa hari yang lalu disebuah kuliah,”Proyek itu harus terencana agar bisa selesai tepat waktu, gak kayak proyek FTP ini, gak selesai-selesai”. Dan kamipun hanya bisa tertawa getir.ckckck

 

Jumat, 17 Juni 2011

The Best Teachers

Aku punya sebuah cita-cita. Sebenarnya banyak sekali cita-cita, diantaranya aku ingin sekali mengabdi pada masyarakat. Ingin mendirikan sebuah sekolah sendiri ditempat yang mungkin terpencil, dan aku akan mengajarkan pada anak-anak membaca, berhitung, bermain, dengan semuanya gratis. Aku ingin membuat sekolah untuk anak yang gak mampu. Aku gak tau, apakah aku ingin menjadi seorang guru? tapi aku hanya ingin mengajarkan hal yang aku bisa kepada orang lain dengan ikhlas, sehingga dapat benar-benar bermanfaat bagi yang aku beri. Bukan secara paksa dituang, pelan, tapi pasti. Itu yang aku inginkan.

Itu adalah impianku saat SMA, hingga saat ini.

Suatu hari aku bersama teman-temanku pergi nonton bioskop. Dan disana aku mengenal Bu Mus. "Guru itu tanpa tanda jasa". Dan seperti itu lah Bu Mus. Betapa inilah seorang guru yang mengajar dengan hati. Dengan sangat ikhlas. Dan kau lihat bukan? Bagaimana anak didiknya sekarang? Wonderfull.. =)

Saat menginjak banku kuliah, aku sedang gemar-gemarnya membaca buku. Dan ada satu buku yang benar-benar menyita pandanganku saat aku masuk Gramedia. Aku gak punya cukup uang untuk membeli buku itu, tapi untunglah bahwa Tuhan sangat tahu aku ingin membacanya.hehehe #lebay. Saat aku cerita pada temanku, temanku bilang bahwa ternyata dia punya buku itu dan bersedia meminjamkannya padaku. (Kau lihat bukan? bahwa Allah sangat baik ketika kita bersungguh-sungguh.hehehe) Dan dari sana aku mengenal sosok Tuan Kobayasi. Amazing.. Oh Mr. Kobayashi.. Aku benar-benar takjub pada sosoknya. Oh Tuhan.. Seperti inilah karakter yang aku impikan ada dalam diriku. Beliau sangat telaten menyapa, mndengarkan, bahkan beliau bisa mengerti apa yang diinginkan anak didiknya satu per satu. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan hati. Dengan ketulusannya. Mengajarkan banyak hal, bahkan etika. Subhanallah.. (That book is Totto chan)

Lalu kemaren. Baru kemaren, Aku mengenal sosok Anne Mansfield Sulivan. Subhanallah, beliau juga orang yang jauh luar biasa. Siapa dia?? Mungkin kalian lebih mengenal sosok Helen Keller ketimbang Gurunya. Seorang penulis, aktivis politik dan dosen Amerika. Bagi Helen, hari yang paling penting yang selalu ia ingat dalam hidupnya, ia kedatangan seorang perempuan Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia yang menjadi gurunya. Anne dengan sangat menakjubkan mengenalkan dunia yang berbeda pada Helen. Perjuangan Anne mengajarkan Helen membaca dan berbicara sungguh sangat luar biasa. Bahkan hal yang membuatku sangat takjub, dengan sabar Anne menuliskan apa yang dikatakan dosennya ditelapak tangan Helen agar Helen dapat mengerti apa yang diajarkan dosen padanya. Jika kalian tidak mengenal Helen Keller, akan aku beri tahu sedikit, sisanya kalian tentu bisa mencarinya sendiri. Helen lahir normal, namun pada usia 19 bulan, ia diserang penyakit misterius yang menyebabkannya buta dan tuli. Bisa kalian bayangkan?? Betapa Amazing-nya seorang Anne Mansfield Sulivan, yang dapat mengantarkan Helen Keller menjadi seorang yang benar-benar luar biasa.

Aku harap, aku dapat mencapai cita-citaku suatu saat. Karena aku tahu, aku butuh banyak pengalaman untuk itu. Dan karena aku juga tahu, perjalananku masih panjang, butuh banyak hal agar aku bisa seperti guru terhebat seperti mereka. =)

Dan yang aku harapkan. Semoga pendidik di negara ini bisa belajar dari mereka. Mengajarkan dengan hati. Bukan karena sertifikasi dan bayaran yang besar, tapi sama sekali gak memberikan mutu yang terjamin bagi siapapun. =)

Wahai Guru, dari engkaulah kami belajar. Mohon ajarkanlah kami dengan sabar saat kami benar-benar tidak mengerti. =)