Orang lain terkadang sibuk menulis diary dengan awalan “Dear
diary” tapi aku tidak. Aku mengawali tulisanku dengan menyebut namanya.
“Tra, hidup terkadang sengat membosankan. Suatu ketika saat Tuhan
mengijinkan aku pergi kehutan lalu memanjat gunung-gunung, maka pasti akan aku
lakuakn.”
“Memangnya kalau kita hidup dan tidak mengikuti aturan kenapa Tra?? Aku
benar-benar sudah mulai bosan dengan yang namanya Aturan dan Batasan. Aku benci
Keenan. Tapi saat ini aku ingin jadi Keenan, yang berani mengambil langkah,
menerobos aturan dan batasan, lalu dia mendapat apa yang dia mau. Dia menjadi
dirinya sendiri.”
Aku selalu menuliskan apa yang ada diotakku saat itu, saat
aku marah, saat aku kesal, saat aku bahagia, saat aku senang. Aku akan segera
mengangkat Handphone-ku lalu aku akan mulai mengetikkan apa yang ingin aku
ungkapkan dank u irimkan padanya.
Aku tidak peduli apakah dia akan membacanya atau tidak?
Apakah dia akan membalas atau tidak? Dan aku tidak peduli apakah dia merasa
terganggu dengan segala yang aku ucapkan atau tidak?
Aku tahu dia adalah manusia yang berhati, bukan lembara
kertas yang bisa aku corat-coret begitu saja. Aku sama sekali tak bisa mengerti
dan tak bisa mendiskripsikan disebut apa Detra-ku ini? Bagiku, dia berati
banyak. Sangat banyak, bahkan aku rasa dia sudah menjadi setengah dari diriku.
Saat dia tidak ada, aku benar-benar merasa kosong. Aku kehilangan sebagian dari
diriku.
Aku baru saja kehabisan buku Diary, dan disaat yang sama aku
seharusnya sudah tak lagi bersamanya. Tapi mencari diary yang sesuai dengan apa
yang aku inginkan itu tidak mudah. Benar-benar tidak mudah. Aku sudah mencari
dari satu toko buku ke buku yang lain, dari stationary satu ke stationary yang
lain dan aku hanya menemukan Diary yang sama, dan itu tidak sesuai dengan apa
yang aku inginkan. Bagiku ini sama dengan mencari penggantimu. Susah. Banget.
Semua sama, dan tidak ada yang menarik perhatianku sepertimu. Bagiku ini
persamaan yang lucu tapi juga aneh.
Kau bukan Diary, tapi kau ada disetiap hariku, Tra… :)




